apa lagi yang harus ku bawa
selain selimut kumal bernoda
lumpur kering menempel padanya
apa lagi yang harus ku bawa
selain sepotong nyawa
dengan tertunduk muka
apa lagi yang harus ku bawa
selain obor yang menyala
kelak membakar dua-duanya
Surakarta, 7 Februari 2008
(Majalah Keren Beken. Edisi IX, 19 Mei-1 Juni 2008)
***
Rabu, 20 Januari 2010
Cerita Seorang Anak kepada Ibunya
Ibu, tak perlu kau mendongeng seperti dulu
atau kau nyanyikan sebuah lagu
sebab kutahu bola matamu sayu
terlalu lelah menatap tungku
perlahan-lahan mulai berdebu
Ibu, kemarin ayah pulang
kulihat beliau meradang
menggenggam amplop berisi uang
bukankah kita harusnya senang
mengapa pintu keras ditendang
Ibu, malam ini aku tak tidur
tak akan kau dengar lagi aku mendengkur
entah karena nasib tak lagi mujur
sebait mimpi pun enggan datang menghibur
ataukah lapar telah membunuhnya
Surakarta, 5 Mei 2008
(Harian SOLOPOS, 1 Juni 2008)
***
atau kau nyanyikan sebuah lagu
sebab kutahu bola matamu sayu
terlalu lelah menatap tungku
perlahan-lahan mulai berdebu
Ibu, kemarin ayah pulang
kulihat beliau meradang
menggenggam amplop berisi uang
bukankah kita harusnya senang
mengapa pintu keras ditendang
Ibu, malam ini aku tak tidur
tak akan kau dengar lagi aku mendengkur
entah karena nasib tak lagi mujur
sebait mimpi pun enggan datang menghibur
ataukah lapar telah membunuhnya
Surakarta, 5 Mei 2008
(Harian SOLOPOS, 1 Juni 2008)
***
Bisakah Kita Ganti Arti Demokrasi
Seperti inikah nuansa demokrasi
saat partai politik giat memonopoli
calon-calon pemimpin yang hendak naik kursi
dan kita hanya bisa menerima
dengan agak bersabar juga harus memilihnya
Mengapa kami tak mengerti juga
saat mereka mengatasnamakan rakyat jelata
sedang mereka berupaya untuk berdiri di atas roda
lewat kampanye-kampanye megahnya:
di sudut sana anak kecil mati tertikam nyeri
belum tersentuh aroma nasi sedari pagi!
Kami lihat berita-berita suram di televisi
lagi-lagi oknum peradilan terjerat korupsi
bukannya ditinjau moralitasnya yang kian menepi
malah dinaikkan tunjangan gaji:
tanpa melihat ke arah bawah
betapa untuk bernapas kami semakin payah
Penuh kesal kami cari arti demokrasi
menurut etimologi di kamus besar KBBI:
“Kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”
di sini kami mulai sedikit mengerti
para pejabat-pejabat tinggi
ternyata juga seorang rakyat!
Dengan ini, bisakah kita ganti arti demokrasi
yang lebih spesial lagi?
Surakarta, 16 April 2008
(Harian SOLOPOS, 1 Juni 2008)
saat partai politik giat memonopoli
calon-calon pemimpin yang hendak naik kursi
dan kita hanya bisa menerima
dengan agak bersabar juga harus memilihnya
Mengapa kami tak mengerti juga
saat mereka mengatasnamakan rakyat jelata
sedang mereka berupaya untuk berdiri di atas roda
lewat kampanye-kampanye megahnya:
di sudut sana anak kecil mati tertikam nyeri
belum tersentuh aroma nasi sedari pagi!
Kami lihat berita-berita suram di televisi
lagi-lagi oknum peradilan terjerat korupsi
bukannya ditinjau moralitasnya yang kian menepi
malah dinaikkan tunjangan gaji:
tanpa melihat ke arah bawah
betapa untuk bernapas kami semakin payah
Penuh kesal kami cari arti demokrasi
menurut etimologi di kamus besar KBBI:
“Kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”
di sini kami mulai sedikit mengerti
para pejabat-pejabat tinggi
ternyata juga seorang rakyat!
Dengan ini, bisakah kita ganti arti demokrasi
yang lebih spesial lagi?
Surakarta, 16 April 2008
(Harian SOLOPOS, 1 Juni 2008)
Adalah Milikku
sunyi malam memagut
saat huruf hijaiyah kusebut
sampai larut
embun yang runtuh
menjelang subuh
tak jua rapuh
isak petir yang tertahan
oleh gumpalan awan
mengundang gerimis tertahan
(kemudian baru aku tahu
gerimis perlahan itu
adalah milikku)
Surakarta, 7 Februari 2008
(Majalah Annida, Edisi Juni 2008)
***
saat huruf hijaiyah kusebut
sampai larut
embun yang runtuh
menjelang subuh
tak jua rapuh
isak petir yang tertahan
oleh gumpalan awan
mengundang gerimis tertahan
(kemudian baru aku tahu
gerimis perlahan itu
adalah milikku)
Surakarta, 7 Februari 2008
(Majalah Annida, Edisi Juni 2008)
***
Usai Hujan, Bertunas Pelangi
Apa arti hujan selain embun yang menyejukkan
rongga-rongga rindu, saat ladang kita dipenuhi gersang
kemenangan hingga hari menjelang keangkuhan. Musim
mengajarkan alur kehidupan dari kemarau dan hujan.
Berulang-ulang bagai harmoni yang tak terpisahkan.
Laiknya alunan musik, terdengar indah dari
nada yang berlainan.
Hujan adalah serpihan warna yang tercerai. Saat hujan
usai, akan kau dapati langit merangkainya menjadi sebuah
pelangi yang terbentuk dari warna yang beradu. Selalu,
usai hujan tunas pelangi tumbuh. Serupa malam
yang terkikis hangatnya subuh.
Surakarta, 20 November 2007
(Majalah Annida, Edisi Juni 2008)
***
rongga-rongga rindu, saat ladang kita dipenuhi gersang
kemenangan hingga hari menjelang keangkuhan. Musim
mengajarkan alur kehidupan dari kemarau dan hujan.
Berulang-ulang bagai harmoni yang tak terpisahkan.
Laiknya alunan musik, terdengar indah dari
nada yang berlainan.
Hujan adalah serpihan warna yang tercerai. Saat hujan
usai, akan kau dapati langit merangkainya menjadi sebuah
pelangi yang terbentuk dari warna yang beradu. Selalu,
usai hujan tunas pelangi tumbuh. Serupa malam
yang terkikis hangatnya subuh.
Surakarta, 20 November 2007
(Majalah Annida, Edisi Juni 2008)
***
Tikungan Perpisahan
Sebelum sampai tikungan ini
ribuan senja telah kita lewati
di atas pasir putih
memandang ombak berbuih
adakah tawa dan sedu sedan kita
diukir jemari senja
di tebing waktu
abadi selalu
sore itu, surya tak menghadiri undangan kita
terjebak iringan mega
hanya rinai hujan
kado istimewa, tak terlupakan
kemudian kau larut bersama ombak
membentang jarak-
“Aku tetap di sini, sahabat
menanti kapalmu merapat”
Jepara, 24 Juli 2007
(Majalah Aneka Yess, 26 Okt-8 Nov 2009)
***
ribuan senja telah kita lewati
di atas pasir putih
memandang ombak berbuih
adakah tawa dan sedu sedan kita
diukir jemari senja
di tebing waktu
abadi selalu
sore itu, surya tak menghadiri undangan kita
terjebak iringan mega
hanya rinai hujan
kado istimewa, tak terlupakan
kemudian kau larut bersama ombak
membentang jarak-
“Aku tetap di sini, sahabat
menanti kapalmu merapat”
Jepara, 24 Juli 2007
(Majalah Aneka Yess, 26 Okt-8 Nov 2009)
***
Pelayaran Terakhir
Inilah kali terakhir aku berlayar
setelah mengarungi buas samudra dalam
jiwa yang bergejolak
mengenang kembali tiap detik perjalanan
yang melekat erat dalam tingkap-tingkap kalbu
yang tanpa sadar telah mengantarku di ambang batas
di mana nahkoda harus merapat ke dermaga
meninggalkan bunyi gaduh
dari ombak yang menghantam lambung kapal
hingga setiap perjalanan hanya akan menjadi cerita
yang tak akan pernah habis
bagi anak cucu
Surakarta, 2 Mei 2007
(Harian SOLOPOS, 25 November 2007)
***
setelah mengarungi buas samudra dalam
jiwa yang bergejolak
mengenang kembali tiap detik perjalanan
yang melekat erat dalam tingkap-tingkap kalbu
yang tanpa sadar telah mengantarku di ambang batas
di mana nahkoda harus merapat ke dermaga
meninggalkan bunyi gaduh
dari ombak yang menghantam lambung kapal
hingga setiap perjalanan hanya akan menjadi cerita
yang tak akan pernah habis
bagi anak cucu
Surakarta, 2 Mei 2007
(Harian SOLOPOS, 25 November 2007)
***
Langganan:
Postingan (Atom)
