Senin, 28 Desember 2009

Semak Belukar

Lihatlah semak belukar itu, katamu

Sekilas tampak gelap dan menyeramkan

Dibanding padang rumput yang luas di sampingku

(Sesaat aku terdiam

mencerna kata yang mengalun dari bibirmu

laksana tanah gersang

merindukan hujan :

dan runtuhlah dinding nalar yang kubangun)


“ Andai kau bisa melihat dari sisi lain

kau pasti akan temukan satu alasan

mengapa rusa senang berlindung di sana

dan bukankah di sana dia bisa bernaung

dari terik dan hujan

dari pemburu yang mengintai setiap saat ”


Jepara, 17 April 2007

(Harian SOLOPOS, 3 Juni 2007)

***

Permintaan Langit

Maafkan aku…

jika aku tak seindah dulu

dan tak lagi berwarna biru

karena semua juga ulahmu

kau tebangi semua pilarku

untuk hiasan perabotanmu


Wahai makhluk berbudi

permintaanku hanya satu

jagalah sahabatku

bumi ini

seperti kau jaga dirimu


Andai kau sadari

sakit bumi ini adalah sakitmu

derita bumi adalah deritamu jua

sekali lagi, jagalah bumi


Jepara, 24 Februari 2005

(Majalah MOP, Edisi Mei 2005)

***

Persaksian Langit

Segala tipu muslihat

Penyimpangan umat

Telah kulihat

Jeritan hambar

Jeritan samar

Telah kudengar

Pahitnya suka

Manisnya duka

Telah kurasa

Telah kulihat…sarat maksiat

Telah kudengar…sejuta dusta

Telah kurasa…tentang manusia


Jepara, 24 Februari 2005

(Harian Suara Merdeka, 20 Maret 2005)

***

Kutanya Cahaya, Air, dan Api

Kutanya cahaya

Mengapa dunia nian gelap?

Dia menjawab:

Dunia tidaklah gelap

Yang gelap, hati manusia


Kutanya air

Mengapa dunia kering?

Apa jawabnya?

Dunia tidaklah kering

Yang kering, jiwa manusia


Kutanya api

Mengapa dunia kian nian panas?

Dia menjawab:

Dunia tidaklah panas

Yang panas, nafsu manusia


Jepara, 23 Februari 2005.

(Harian Suara Merdeka, 20 Maret 2005)

***