Rabu, 20 Januari 2010

Sriwijaya Post - Diklat Jurnalistik Pers Mahasiswa

Sriwijaya Post - Diklat Jurnalistik Pers Mahasiswa

Pengumuman Lomba Cipta Puisi Religius Tingkat Mahasiswa Se-Indonesia

Assalamualaikum wr. wb.

Lomba Cipta Puisi Religius Tingkat Mahasiswa se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto sampai pada 14 Desember 2009 telah diikuti oleh 749 peserta dari berbabagai perguruan tinggi di Indonesia. Masing-masing peserta diwajibkan mengirimkan 5 judul karyanya, jadi puisi yang ada di tangan Dewan Juri adalah 749 x 5 = 3745 judul puisi.

Penilaian puisi ini dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama 3745 puisi dibaca dan diseleksi oleh Abdul Wachid B.S. dan Arif Hidayat untuk menentukan 50 penyair terbaik dengan masing-masing penyair adalah 2 puisi.

Tahap kedua, adalah menentukan Juara I, Juara II, dan Juara III, serta Nominator 1 sampai 47, yang dilakukan oleh Evi Idawati dan Kuswaidi Syafi’ie.

Secara umum penilaian didasarkan kepada prinsip-prinsip dasar penilaian karya sastra (puisi), dengan meminjam ungkapan T.S. Eliot bahwa “Menilai keindahan puisi dengan melihat aspek kesastraannya, dan menilai kebesaran karya sastra yakni dengan merenungi keagungan pemikiran yang ada di dalamnya.” Namun, ungkapan A. Teeuw juga penting untuk diperhitungkan, “Nilai kesusastraan ada pada tegangan antara konvensi dan inovasinya.” Oleh sebab itu, pada akhirnya karakter kesastraan yang mewujud melalui sarana kepuitisannya, dan karakter “keindahan dalaman” (pinjam istilah V.I. Braginsky) sebuah puisi dari karya seorang penyair menjadi persenyawaan yang utuh, menjadi karakter perpuisiannya.

Berikut ini adalah Juara I, Juara II, dan Juara III, serta urutan Nominator hasil Lomba Cipta Puisi Religius Tingkat Mahasiswa se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto:

Juara I : Faisal Syahreza (Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung)

Juara II : A’yat Safrana G Khalili (Mahasiswa Sekolah Tinggi Keislaman Annuqayah (STIKA), Sumenep, Madura)

Juara III : Syarif Hidayatullah (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA), Jakarta)

Nominator: 1. Muh. Husen Arifin (Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang)

2. Edwar Maulana (Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung)

3. Kedung Darma Romansha (Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Yogyakarta)

4. Bernando J. Sujibto (Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

5. Fredy Wansyah (Mahasiswa Sastra Indonesia Unpad)

6. Nurul Lathiffah (Mahasiswa Prodi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial Humaniora, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

7. Alizar Tanjung (Mahasiswa Pendidikan Islam, IAIN Imam Bonjol, Padang)

8. Fitriani Um Salva (Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), Samarinda)

9. Baiq Desi Luthfiana (Mahasiswa Universitas Mataram)

10. Mutia Sukma (Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY, Yogyakarta)

11. Iqbal H Saputra (Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD)Yogyakarta, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI))

12. Abdul Aziz Rasjid (Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Purwokerto)

13. Yayan R. Triyansyah (Mahasiswa Universitas Negeri Semarang, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)

14. Kemri Qodarsyah (Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni)

15. Abdul Hadi (Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Adab, IAIN Syekh Nurjati)

16. Taufik Hidayat (Mahasiswa Universitas Negeri Medan (Unimed), Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)

17. Lasinta Ari Nendra Wibawa (Mahasiswa Prodi Teknik Mesin, Universitas Sebelas Maret, Surakarta)

18. Tikah Kumala (Mahasiswa Sastra Indonesia FBS di UNY)

19. Ryan Rachman (Mahasiswa Fakultas Sastra Unsoed, Purwokerto)

20. Yosi M Giri (Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto)

21. Dien Wijayatiningrum (Mahasiswi Pendidikan Bahasa Jepang, Universitas Pendidikan Indonesia Bandung)

22. Wahyu Choerul Cahyadi (Mahasiswa STAIN Purwokerto, Jurusan Tarbiyah)

23. Matroni el-Moezany (Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta)

24. Ahmad Musabbih (Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, UNY)

25. Aji Wibowo (Mahasiswa Program Studi Manajemen Informatika Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Bandung) 26. Galih Pandu Adi (Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Indonesia Undip)

27. Langgeng P. Anggradinata (Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia)

28. Budi Nando (Mahasiswa di Jurusan Sastra Indonesia Unand, Padang)

29. Ala Roa (Mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

30. Wawan Arif Prasena (Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)

31. Fernando (Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Adab, IAIN Imam Bonjol, Padang)

32. Munawir Aziz (Mahasiswa STAIN Kudus)

33. Hendriyanto (Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, STKIP PGRI Sumenep, Madura)

34. Guntur Alam (Mahasiswa Universitas Islam ’45, Bekasi)

35. Latief S Nugraha (Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta)

36. Saeful Anwar (Universitas Gadjah Mada, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Indonesia)

37. Hernowo Bayuaji (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto)

38. Salfi Faridoni (Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta)

39. Ulfatur Rohmah (Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, IKIP PGRI Semarang)

40. Indra Aditiyawarman (Mahasiswa Jurusan Dakwah (Komunikasi), STAIN Purwokerto)

41. Miftahul Anam (Mahasiswa KPI, Jurusan Dakwah STAIN Purwokerto)

42. Edi Sarjani (Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Riau)

43. Lukman Hakim AG (mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni (STITA) Sumenep)

44. Oktaf Giar Purnomo (Mahasiswa STAIN Purwokerto)

45. Abdulloh (Mahasiswa STAIN Purwokerto, Jurusan Tarbiah K1)

46. Fitri Merawati (Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta)

47. Eka Nusa Pratiwi (Mahasiswa Jurusan Teater ISI Yogyakarta)

Nama-nama di atas telah ditetapkan oleh Dewan Juri dengan pertimbangan berdasar keilmuan dan pengalamannya, baik sebagai kritikus sastra maupun sebagai penyair.

Demikianlah keputusan dari Dewan Juri, tidak dapat diganggu gugat, dan tidak ada surat menyurat, SMS, dan telfon antara peserta dengan Panitia/Dewan Juri dalam penilaian ini.

Wassalamualaikum wr. wb.

Tertanda Dewan Juri:

Abdul Wachid B.S.

Arif Hidayat

Evi Idawati

Kuswaidi Syafi’ie

Seperti Bulan dan Bintang I (Cerpen Musik Perdana )

Seperti bulan dia mendekap tubuhku
Membawaku ke dalam mimpi terindahku
Mampukah aku berpaling jauh darinya
Tanpa dustai cintaku untuk diriNya

Seperti bintang dia membelai hatiku
Merasuki tiap bilik dalam sukmaku
Mampukah aku meraih cinta kasihnya
Tanpa lukai cinta kasihku untukNya *

Seandainya kisahku dikemas dalam sebuah cerita, kuingin lagu "Seperti Bulan dan Bintang" karya Ari Nendra yang menjadi sound-tracknya. Kau tahu kenapa? Tidak lain karena reffrain lagu ini cukup mewakili kisah nyata yang aku jalani. Anehnya, kejadiannya sama dengan saat pembuatan lagu ini.

Saat itu, aku ditawari cinta oleh hari-hari yang lewat seperti biasa. Aku menyebutnya cinta kedua karena menurutku cinta pertama adalah dari sesosok wanita anggun yang senantiasa memberikan bunga kasih sayang dalam setiap denyut napasnya, menyambut kehadiran kita untuk pertama kalinya di muka bumi yang mulai renta, dan di bawah kakinya tercium aroma surga.

Tapi jujur, aku tak tahu itu cinta atau bukan karena cinta dan birahi hampir tak nampak tapal batasnya. Sama saja membedakan areal di tengah hutan yang dipisahkan oleh benang hitam jam dua belas malam. Meski hati kecilku mengatakan, "Cinta itu seperti jalinan antara daun dan
akar pepohonan. Jika suatu saat daun gugur, akar pepohonan akan merengkuhnya menjadi tunas-tunas sewarna harapan. Bukan malah membusukkan diri lalu terurai di perut bumi."

Entah kenapa saat itu waktu enggan mengulurkan tangan untuk semakin mengenalkanku pada aroma parfum yang dipakainya. Atau sekedar mengabadikan momen-momen penting
di mana ia mewarnai angkasa dengan senyumnya yang bermuatan cinta dan pesona.

"Aduh, manisnya", teriaknya saat ia mengamati kupu-kupu yang hinggap di atas kelopak bunga mawar di sebuah taman. Ia mengagumi sentuhan kupu-kupu yang lembut dan penuh cinta tanpa merusak putiknya. Ia tak menyadari kalau aku sedang mengamatinya lekat-lekat di atas balkon, di lantai dua dengan memendam rindu yang membukit dan mulai membatu.

"Wahai, kupu-kupu! Seandainya kau menjelma menjadi seorang manusia yang bersahaja sekalipun. Aku akan tetap berhasrat untuk merebahkan segenap kasihku kepadamu", ucapnya penuh makna. "Karena aku yakin kau pasti akan menjaga ikatan cinta tanpa menodainya seperti halnya lelaki di dunia ini. Aku telah menyaksikan nafsu-nafsu yang membara dalam diri
lelaki yang takkan mampu diredam oleh akal sehat manapun."

"Seandainya kau juga tahu akan kesunyianku di belantara kehidupan ini, kau pasti akan rela memberikan sepasang sayapmu untuk melepaskanku dari kenyataan yang menghampiriku dan membawaku terbang ke angkasa. Betapa kesunyian telah melekat dalam urat-urat nadiku,
kupu-kupu!. Aku telah kehilangan kasih sayang dari seorang bunda yang dulu tak pernah usai mengalirkan mata air cinta membasuh kepedihan-kepedihanku. Sedang ayah yang masih
tersisa untukku telah lalai dan larut dalam bisnis yang digelutinya. Mungkin, ayah berpikir bila harta mampu meniupkan kedamaian bagiku", ucapnya sambil menahan isak
yang hampir membuatku ikut menangis.

Sejenak ia mendongak ke arah barat. Matahari hendak berkemas untuk menghilang dari batas cakrawala, malam akan kembali bertahta. Aura sunyi pun bertiup penuh luka.

"Malam hampir memijakkan kakinya, kupu-kupu! Aku harus pulang sekarang. Tapi kamu janji, ya! Akan menemuiku lagi di taman ini."

"Mungkin, aku akan seperti matahari itu. Pernah berpendar di atas bumi namun akhirnya akan tenggelam dalam mimpi keabadian", bisiknya lirih. "Demikian juga denganmu, kupu-kupu". Setelah mengatakan kalimat itu, ia kemudian bergegas meninggalkan taman dengan langkah yang agak berat. Aku masih sempat melihat derum mobilnya menderu meninggalkan areal kampus.

Setelah peristiwa sore itu, aku tak pernah bersua lagi dengannya. Sampai kemudian aku mendengar burung gagak meniupkan sepenggal berita duka pada para kafilah bumi. Dan nama itu, nama yang dipilihnya adalah nama yang hampir terpahat indah dalam semenanjung hatiku.

Cukup lama mendung bergelayut di mataku. Hingga aku bisa memetik seuntai bias pelangi di antara hujan yang mewarnai hari-hariku. Mungkin, jika aku sempat mengajak mawar itu dalam pendakianku, durinya pasti akan merenggangkan pegangan tanganku. Seandainya kutinggalkan, pendakianku takkan nikmat karena wajahku akan selalu kutolehkan ke
belakang.

***

Sore itu, aku mendatangi taman di mana dulu ia bercakap-cakap dengan kupu-kupu. Kulihat kupu-kupu itu masih berkeliaran di sekitar taman. Ia kelihatan resah karena gadis yang dulu pernah bercakap-cakap dengannya tidak memenuhi janjinya. "Aku tahu aku bukan lelaki sebaik
yang ia mau. Namun, aku juga bukan lelaki seburuk yang ia tahu. Sampaikan salam hangatku untuknya', ucapku pada kupu-kupu itu. []

(Majalah Pena Jepara, Edisi September 2008)

Seperti Bulan dan Bintang I (Cerpen Musik Perdana )

Seperti bulan dia mendekap tubuhku
Membawaku ke dalam mimpi terindahku
Mampukah aku berpaling jauh darinya
Tanpa dustai cintaku untuk diriNya

Seperti bintang dia membelai hatiku
Merasuki tiap bilik dalam sukmaku
Mampukah aku meraih cinta kasihnya
Tanpa lukai cinta kasihku untukNya *

Seandainya kisahku dikemas dalam sebuah cerita, kuingin lagu "Seperti Bulan dan Bintang" karya Ari Nendra yang menjadi sound-tracknya. Kau tahu kenapa? Tidak lain karena reffrain lagu ini cukup mewakili kisah nyata yang aku jalani. Anehnya, kejadiannya sama dengan saat pembuatan lagu ini.

Saat itu, aku ditawari cinta oleh hari-hari yang lewat seperti biasa. Aku menyebutnya cinta kedua karena menurutku cinta pertama adalah dari sesosok wanita anggun yang senantiasa memberikan bunga kasih sayang dalam setiap denyut napasnya, menyambut kehadiran kita untuk pertama kalinya di muka bumi yang mulai renta, dan di bawah kakinya tercium aroma surga.

Tapi jujur, aku tak tahu itu cinta atau bukan karena cinta dan birahi hampir tak nampak tapal batasnya. Sama saja membedakan areal di tengah hutan yang dipisahkan oleh benang hitam jam dua belas malam. Meski hati kecilku mengatakan, "Cinta itu seperti jalinan antara daun dan
akar pepohonan. Jika suatu saat daun gugur, akar pepohonan akan merengkuhnya menjadi tunas-tunas sewarna harapan. Bukan malah membusukkan diri lalu terurai di perut bumi."

Entah kenapa saat itu waktu enggan mengulurkan tangan untuk semakin mengenalkanku pada aroma parfum yang dipakainya. Atau sekedar mengabadikan momen-momen penting
di mana ia mewarnai angkasa dengan senyumnya yang bermuatan cinta dan pesona.

"Aduh, manisnya", teriaknya saat ia mengamati kupu-kupu yang hinggap di atas kelopak bunga mawar di sebuah taman. Ia mengagumi sentuhan kupu-kupu yang lembut dan penuh cinta tanpa merusak putiknya. Ia tak menyadari kalau aku sedang mengamatinya lekat-lekat di atas balkon, di lantai dua dengan memendam rindu yang membukit dan mulai membatu.

"Wahai, kupu-kupu! Seandainya kau menjelma menjadi seorang manusia yang bersahaja sekalipun. Aku akan tetap berhasrat untuk merebahkan segenap kasihku kepadamu", ucapnya penuh makna. "Karena aku yakin kau pasti akan menjaga ikatan cinta tanpa menodainya seperti halnya lelaki di dunia ini. Aku telah menyaksikan nafsu-nafsu yang membara dalam diri
lelaki yang takkan mampu diredam oleh akal sehat manapun."

"Seandainya kau juga tahu akan kesunyianku di belantara kehidupan ini, kau pasti akan rela memberikan sepasang sayapmu untuk melepaskanku dari kenyataan yang menghampiriku dan membawaku terbang ke angkasa. Betapa kesunyian telah melekat dalam urat-urat nadiku,
kupu-kupu!. Aku telah kehilangan kasih sayang dari seorang bunda yang dulu tak pernah usai mengalirkan mata air cinta membasuh kepedihan-kepedihanku. Sedang ayah yang masih
tersisa untukku telah lalai dan larut dalam bisnis yang digelutinya. Mungkin, ayah berpikir bila harta mampu meniupkan kedamaian bagiku", ucapnya sambil menahan isak
yang hampir membuatku ikut menangis.

Sejenak ia mendongak ke arah barat. Matahari hendak berkemas untuk menghilang dari batas cakrawala, malam akan kembali bertahta. Aura sunyi pun bertiup penuh luka.

"Malam hampir memijakkan kakinya, kupu-kupu! Aku harus pulang sekarang. Tapi kamu janji, ya! Akan menemuiku lagi di taman ini."

"Mungkin, aku akan seperti matahari itu. Pernah berpendar di atas bumi namun akhirnya akan tenggelam dalam mimpi keabadian", bisiknya lirih. "Demikian juga denganmu, kupu-kupu". Setelah mengatakan kalimat itu, ia kemudian bergegas meninggalkan taman dengan langkah yang agak berat. Aku masih sempat melihat derum mobilnya menderu meninggalkan areal kampus.

Setelah peristiwa sore itu, aku tak pernah bersua lagi dengannya. Sampai kemudian aku mendengar burung gagak meniupkan sepenggal berita duka pada para kafilah bumi. Dan nama itu, nama yang dipilihnya adalah nama yang hampir terpahat indah dalam semenanjung hatiku.

Cukup lama mendung bergelayut di mataku. Hingga aku bisa memetik seuntai bias pelangi di antara hujan yang mewarnai hari-hariku. Mungkin, jika aku sempat mengajak mawar itu dalam pendakianku, durinya pasti akan merenggangkan pegangan tanganku. Seandainya kutinggalkan, pendakianku takkan nikmat karena wajahku akan selalu kutolehkan ke
belakang.

***

Sore itu, aku mendatangi taman di mana dulu ia bercakap-cakap dengan kupu-kupu. Kulihat kupu-kupu itu masih berkeliaran di sekitar taman. Ia kelihatan resah karena gadis yang dulu pernah bercakap-cakap dengannya tidak memenuhi janjinya. "Aku tahu aku bukan lelaki sebaik
yang ia mau. Namun, aku juga bukan lelaki seburuk yang ia tahu. Sampaikan salam hangatku untuknya', ucapku pada kupu-kupu itu. []

(Majalah Pena Jepara, Edisi September 2008)

Usai Pesta

pesta akbar telah berlalu
ada yang memotong tumpeng
ada pula yang diam membisu
seperti pohonan di jalanan itu
yang sama-sama tertancap paku

Surakarta, 18 April 2009
(Harian SOLOPOS, 3 Mei 2009)

***

Fenomena

ada fenomena baru dalam pemilu
suara yang didapat tak sesuai yang dimau
beberapa mereka-reka tentang korelasi
antara kepicikan demokrasi dan suara tertinggi

ada juga yang dikaitkan dengan korupsi
yang pernah dikupas media belum lama ini
kemudian diterjemahkan dengan peribahasa:
“Karena setitik nila, rusak susu sebelanga”

dari pilihan yang ada,
“Silakan mencontreng mana yang Anda suka!”

Surakarta, 18 April 2009.
(Harian SOLOPOS, 3 Mei 2009)

***

Boneka dan Roda

tanganmu sekarang adalah boneka
bukan lagi muara pemikiranmu yang merdeka
sebab telah lama kau gadaikan keduanya
lewat transaksi demokrasi di negara kita

kakimu sekarang adalah roda
berjalan menurut mobil milik siapa
berbelok sesuai arah kemudinya
rem terinjak berhenti seketika

kemudian bernasib seperti roda-roda lainnya
tercium aspal panas kau diam tak bersuara

Surakarta, 18 April 2009
(Harian SOLOPOS, 3 Mei 2009)

***